6 Mei 2016 lalu, Alhamdulillah saya diberi kesempatan mengikuti sebuah Talkshow menarik di gedung G 100 Fakultas Psikologi UGM. Banyak teman saya yang bertanya, mana yang lebih penting, menikah ataukah melanjutkan pendidikan? Why not both? Berikut sebagian kecil catatan saya dari kegiatan tersebut...
1. Dr. Diana Setyawati M.H. Sc. Psy (Direktur Center for Public Mental Health, Dosen Fakultas Psikologi UGM)
Demi memberikan asi eksklusif selama dua tahun, beliau mengajak anaknya menempuh ribuan kilometer ke berbagai negara. Bangkok, Melbourne, Aceh, berbagai konferensi internasional dan kegiatan ia hadiri dengan tetap menyusui sang buah hati. Baginya, menyusui adalah prioritas. Mungkin awalnya terasa berat, tetapi lama kelamaan dengan membiasakan diri kitapun akan bertambah kuat, Insya Allah. Bagi orang lain, terkadang membaca jurnal perlu suasana yang demikian kondusif untuk memahaminya. Tetapi atas izin Allah SWT, beliau tetap bisa membaca jurnal sembari menyusui saat menempuh pendidikan di Australia. Saat mengerjakan tesis, deadline beasiswa beliau mepet dengan waktu melahirkan. Supervisor nya yang kemudian mengatakan bahwa hal tersebut melanggar human rights. Supervisor itulah yang kemudian meminta beasiswanya diperpanjang dua bulan sehingga ia memiliki waktu untuk melahirkan. Masya Allah, semuanya akan mudah kalau Allah SWT berkehendak demikian.
Bu Diaa juga menegaskan betapa pentingnya co-parenting. Peran ayah DAN ibu tidak tergantikan. "Dibalik setiap ibu yang hebat, ada ayah yang hebat."
Di Melbourne, sang bidan bahkan mengajari ayah cara memandikan bayi dan berkata "Selama dua minggu kedepan anda harus memandikan bayi supaya istri anda bisa beristirahat."
2. Kiki Barkiah (Penulis buku "5 Guru Kecilku", praktisi homeschooling)
Di awal, beliau menekankan pentingnya memiliki visi misi yang jelas dalam hidup.
Perlu bahkan menuliskan kita ingin meninggal dalam keadaan seperti apa, tugas kekhalifahan seperti apa yang ingin kita ambil untuk kita tangani, lalu breakdown cita-cita tiap tahun dan lain sebagainya. Persiapan parenting jangan sampai sebatas persiapan yang bersifat duniawi, kita tentu harus memperhatikan persiapan akhirat juga.
Yang paling baik dan berpengaruh adalah keteladanan. Maka bersiap menjadi orang tua harus juga bersiap menjadi teladan yang baik. Sebaik-baik teladan tentunya adalah Rasulullah SAW, maka harus kita ajarkan pada anak-anak pentingnya meneladani kehidupan beliau dan para shahabat.
Yang juga harus disadari, dalam mendidik anak, kita berkejaran dengan deadline anak mencapai usia baligh sehingga ia sudah dikenai hukum-hukum syariah.
Seiring semakin cepatnya anak mencapai usia baligh, kita harus menyiapkan kurikulum pendidikan yang cukup untuk bekal mereka sehingga ketika secara biologis mereka sudah memiliki gelora syahwat, mereka bisa menempatkannya secara baik dan tepat.
Itulah mengapa Bu Kiki memilih homeschooling dengan kesadaran betapa banyaknya yang penting untuk diajarkan, dan betapa sempitnya waktu. Jangan sampai ada hal-hal tidak penting dan tidak bermanfaat dalam kurikulum pendidikan anak.
Ketika ditanya bagaimana mengajak adik pada kebaikan jika kita berada pada tempat yang jauh, beliau menerangkan bahwa yang harus kita lakukan adalah meraih hatinya. Kenalkan ia dengan orang-orang baik, jalin komunikasi yang intens, dan bantu ia untuk meninggalkan keburukan. Ingat bahwa hidayah itu milik Allah SWT, maka doakanlah ia. Jangan langsung menembak mereka pada hal-hal yang furu'. Ajak mereka untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, nanti mereka akan memiliki rasa malu pada Allah SWT dengan sendirinya. Tetaplah menjadi tempat yang nyaman, jangan sampai ia merasa lebih nyaman dengan lingkungan yang buruk.
Terapkan misi 6:66, semoga Allah SWT membebaskan diri dan keluarga kita dari siksa api neraka. Aamiin~
Semangat mencari ilmu wahai calon maupun yang sudah menjadi ibu dan ayah ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar