Minggu, 01 Mei 2016

Peluncuran Buku & Diskusi "Nora adalah Subversif" karya Faiza Mardzoeki


"Nora" dan "Subversif!" adalah dua buku karya Faiza Mardzoeki yang terinspirasi dari karya Henrik Ibsen.Henrik Ibsen menulisnya dengan latar lingkungan beliau di Norwegia abad ke-18. Nora terinspirasi dari karya Ibsen yang dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai "Doll House", sedangkan "Subversif!" terinspirasi dari "Enemy of The People". Kedua karya Faiza Mardzoeki sudah disesuaikan dengan konteks Indonesia kontemporer. 
Pada diskusi buku ini, pembicara pertama adalah Hilde Solbakken yang merupakan warga negara Norwegia. Hilde menjelaskan bahwa masa hidup Henrik Ibsen adalah masa ketika Norwegia belum merdeka dan masa itu masyarakat Norwegia masih sangat agamis. "Doll House" karya Ibsen yang menceritakan tentang keberanian perempuan untuk mengungkapkan pendapatnya dan keberanian untuk mencari kebenaran meskipun ia sudah terikat dalam institusi pernikahan dan bahkan memiliki anak menjadi karya yang cukup kritis dan kontroversial di masa itu. Henrik Ibsen menjadi semacam 'whistle blower' yang menghubungkan antara ranah personal dan ranah publik. Henrik Ibsen merupakan penulis yang sangat kritis pada masa itu dan karya-karyanya bahkan masih menjadi inspirasi dan cukup banyak dimainkan di teater hingga hari ini.
Selanjutnya, Faiza Mardzoeki menjelaskan mengenai kekagumannya pada Henrik Ibsen yang sangat dihargai oleh pemerintah Norwegia bahkan setelah lebih dari seratus tahun berlalu. Henrik Ibsen termasuk seorang penulis realis dan dramanya bukanlah tipe drama melankolis yang berakhir bahagia. Ibsen seringkali meninggalkan ruang pertanyaan bagi penikmat karyanya dan memunculkan sisi-sisi kritis mereka. Faiza mendorong mahasiswa untuk membaca karya drama kritis seperti ini karena akan membawa kita lebih peka terhadap permasalahan di sekitar kita.
Pembicara ketiga yaitu Mba Nova yang merupakan dosen DPP UGM. Mba Nova berusaha memunculkan sisi kritis peserta dengan menjelaskan bahwa Mba Faiza mengambil setting keluarga kelas menengah di Jakarta yang notabene merupakan kota metropolitan, apakah permasalahan seperti ini juga muncul dengan keluarga di daerah urban atau daerah lainnya di Indonesia? Mba Nova mengingatkan para peserta untuk terus memunculkan nalar kritis di tengah demokrasi yang selalu mengedepankan mayoritas. Mba Nova juga 'membocorkan' isi buku "Subversif!" di mana Dr. Torangga bekerja di tambang dan ia berusaha menyadarkan publik bahwa air di kota akan tercemar karena kegiatan pertambangan. Dalam kisah tersebut, sang walikota merupakan saudara dari Dr. Torangga. Muncul dilema ketika masyarakat kemudian lebih memihak walikota yang mendukung perusahaan tambang karena sudah ada doktrin mengenai kesejahteraan yang dinilai dengan uang. Mereka lebih mengkhawatirkan sumber penghasilan mereka dibandingkan masalah air. Banyak yang dapat peserta renungkan dari kisah ini. Apakah ini fiksi? Atau ini menjadi 'drama' keseharian di masyarakat dimana orang-orang seperti Dr. Torangga terpaksa berjuang sendirian melawan sistem yang mengakar kuat? Akankah orang-orang seperti ini menyerah? Lalu bagaimana dengan kita? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar