Jumat, 06 Mei 2016

Menyikapi Secara Adil Pemberantasan Terorisme di Indonesia

Alhamdulillah pada 5 Mei 2016 lalu saya diberi nikmat oleh Allah SWT berupa kesempatan untuk mengikuti sebuah kajian kritis mengenai penanganan terorisme di Indonesia yang bertempat di Masjid Kampus UGM. Ada banyak pembicara dan hal penting, namun sebagian saja yang akan saya share di sini..

Dalam kasus Siyono yang sempat menjadi perhatian masyarakat karena terdapat berbagai kejanggalan beberapa waktu lalu, Muhammadiyah mengambil peran yang cukup besar dalam membantu Komnas HAM. Dahnil Anzar S., S.E., M.E. yang merupakan ketua umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah mengungkapkan betapa pentingnya umat Islam untuk tidak menjadi orang-orang yang terbeli dengan uang. Ibu Suratmi misalnya, beliau disodori uang Rp 100.000.000,00 tetapi memutuskan untuk terus berjuang mencari keadilan. Banyak ormas maupun korban yang terbeli dengan uang dan menerima begitu saja dana BNPT seolah mengamini bahwa sumber terorisme memang Islam. Dalam melawan Densus88 atau institusi negara lainnya yang melakukan tindakan ilegal, yang harus kita lakukan adalah proses yang sesuai hukum. Jangan melawan dengan kekerasan karena justru itulah yang 'mereka' harapkan. Yang dilakukan Densus88 dalam kasus Siyono adalah re-radikalisasi, bukan deradikalisasi. Anak-anak Siyono dan keluarganya tentu menyimpan trauma tersendiri, ini bisa menjadi potensi teror jika tidak dirangkul oleh kelompok Islam. Karena itulah Muhammadiyah menggerakkan 'Aisyah untuk melakukan trauma healing terhadap anak-anak. Beliau mengingatkan betapa berbahayanya menuhankan uang di kalangan rakyat negeri ini. Yang membuat Belanda lama sekali menjajah Indonesia adalah banyaknya orang-orang dalam negeri yang menjadi penjilat Belanda bukan?

Dr. Mu'inudinillah Basri M.A. yang merupakan Ketua Dewan Syariah Surakarta juga menegaskan bahwa sebisa mungkin seharusnya umat Islam menahan diri untuk tidak berperang jika memang tidak diperlukan. Sebagai contoh, dalam Fathu Makkah dan Perjanjian Hudaibiyah. Allah SWT menahan Rasulullah SAW untuk tidak berperang meski potensinya tinggi. Apakah ijtihad kita sejauh ini sudah benar?

Dan Prof. Jawahir Thantowi S.H., Ph.D yang merupakan tokoh hukum nasional mengingatkan kita bahwa seharusnya hukum di Indonesia tidak ditunggangi kepentingan negara-negara besar.

Semoga bisa dikaji kembali rumusan radikalisme dan terorisme yang tepat dan institusi negara tidak lagi membohongi publik sertamelanggar hukum yang seharusnya mereka tegakkan. Mari berusaha lebih giat belajar dan kritis terhadap berbagai peristiwa di masyarakat. Semoga terorisme benar-benar diberantas, bukan justru dikembangkan untuk kemudian dibunuh demi kepentingan beberapa pihak. Aamiin Yaa Rabb~

Talkshow Parenting: Bersiap Menjadi Orang Tua Teladan Dambaan Anak-anak Masa Depan

6 Mei 2016 lalu, Alhamdulillah saya diberi kesempatan mengikuti sebuah Talkshow menarik di gedung G 100 Fakultas Psikologi UGM. Banyak teman saya yang bertanya, mana yang lebih penting, menikah ataukah melanjutkan pendidikan? Why not both? Berikut sebagian kecil catatan saya dari kegiatan tersebut...

1. Dr. Diana Setyawati M.H. Sc. Psy (Direktur Center for Public Mental Health, Dosen Fakultas Psikologi UGM)
Demi memberikan asi eksklusif selama dua tahun, beliau mengajak anaknya menempuh ribuan kilometer ke berbagai negara. Bangkok, Melbourne, Aceh, berbagai konferensi internasional dan kegiatan ia hadiri dengan tetap menyusui sang buah hati. Baginya, menyusui adalah prioritas. Mungkin awalnya terasa berat, tetapi lama kelamaan dengan membiasakan diri kitapun akan bertambah kuat, Insya Allah. Bagi orang lain, terkadang membaca jurnal perlu suasana yang demikian kondusif untuk memahaminya. Tetapi atas izin Allah SWT, beliau tetap bisa membaca jurnal sembari menyusui saat menempuh pendidikan di Australia. Saat mengerjakan tesis, deadline beasiswa beliau mepet dengan waktu melahirkan. Supervisor nya yang kemudian mengatakan bahwa hal tersebut melanggar human rights. Supervisor itulah yang kemudian meminta beasiswanya diperpanjang dua bulan sehingga ia memiliki waktu untuk melahirkan. Masya Allah, semuanya akan mudah kalau Allah SWT berkehendak demikian.
Bu Diaa juga menegaskan betapa pentingnya co-parenting. Peran ayah DAN ibu tidak tergantikan. "Dibalik setiap ibu yang hebat, ada ayah yang hebat." 
Di Melbourne, sang bidan bahkan mengajari ayah cara memandikan bayi dan berkata "Selama dua minggu kedepan anda harus memandikan bayi supaya istri anda bisa beristirahat."

2. Kiki Barkiah (Penulis buku "5 Guru Kecilku", praktisi homeschooling)
Di awal, beliau menekankan pentingnya memiliki visi misi yang jelas dalam hidup.
Perlu bahkan menuliskan kita ingin meninggal dalam keadaan seperti apa, tugas kekhalifahan seperti apa yang ingin kita ambil untuk kita tangani, lalu breakdown cita-cita tiap tahun dan lain sebagainya. Persiapan parenting jangan sampai sebatas persiapan yang bersifat duniawi, kita tentu harus memperhatikan persiapan akhirat juga.
Yang paling baik dan berpengaruh adalah keteladanan. Maka bersiap menjadi orang tua harus juga bersiap menjadi teladan yang baik. Sebaik-baik teladan tentunya adalah Rasulullah SAW, maka harus kita ajarkan pada anak-anak pentingnya meneladani kehidupan beliau dan para shahabat.

Yang juga harus disadari, dalam mendidik anak, kita berkejaran dengan deadline anak mencapai usia baligh sehingga ia sudah dikenai hukum-hukum syariah.
Seiring semakin cepatnya anak mencapai usia baligh, kita harus menyiapkan kurikulum pendidikan yang cukup untuk bekal mereka sehingga ketika secara biologis mereka sudah memiliki gelora syahwat, mereka bisa menempatkannya secara baik dan tepat. 
Itulah mengapa Bu Kiki memilih homeschooling dengan kesadaran betapa banyaknya yang penting untuk diajarkan, dan betapa sempitnya waktu. Jangan sampai ada hal-hal tidak penting dan tidak bermanfaat dalam kurikulum pendidikan anak.

Ketika ditanya bagaimana mengajak adik pada kebaikan jika kita berada pada tempat yang jauh, beliau menerangkan bahwa yang harus kita lakukan adalah meraih hatinya. Kenalkan ia dengan orang-orang baik, jalin komunikasi yang intens, dan bantu ia untuk meninggalkan keburukan. Ingat bahwa hidayah itu milik Allah SWT, maka doakanlah ia. Jangan langsung menembak mereka pada hal-hal yang furu'. Ajak mereka untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, nanti mereka akan memiliki rasa malu pada Allah SWT dengan sendirinya. Tetaplah menjadi tempat yang nyaman, jangan sampai ia merasa lebih nyaman dengan lingkungan yang buruk.

Terapkan misi 6:66, semoga Allah SWT membebaskan diri dan keluarga kita dari siksa api neraka. Aamiin~
Semangat mencari ilmu wahai calon maupun yang sudah menjadi ibu dan ayah ^_^

Minggu, 01 Mei 2016

Sensation (The Sense of Spectacular Creation). Sekolah Media Fakultas Kehutanan 2016

Acara ini merupakan sekolah media yang diselenggarakan oleh LEM Fakultas Kehutanan UGM pada 30 April 2016 di Auditorium Fakultas Kehutanan. Pembicara pertama adalah Dimas Syibli M. Haikal yang merupakan pimpinan redaksi BPPM Balairung. Dimas memberikan materi mengenai jurnalisme. Salah satu kutipan yang ia sajikan adalah "Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sana lah harga kreativitas ditimbang-timbang." -Seno Gumira Ajidarma-
Dimas menjelaskan bahwa diantara ciri jurnalisme adalah skeptis, bertindak, dan berubah. Yang dimaksud dengan skeptis adalah daya kita untuk mencari informasi tentang suatu isu. Jangan cepat puas dengan satu sudut pandang saja, berpikirlah secara luas dan lihatlah banyak aspek. Sejauh manakah kita bisa membawa suatu isu? Tak perlu muluk-muluk untuk menulis permasalahan yang besar, mulai dari permasalahan sederhana saja akan bisa menjadi menarik bila kita mampu mengemasnya dengan mewah. Sebagai penyebar informasi, kita memiliki tanggung jawab untuk menulis hal yang bermanfaat saja, sekecil apapun itu. Ada beberapa prinsip intelektual dalam reportase, diantaranya yaitu jangan menambahkan sesuatu yang tidak ada, jangan menipu pembaca, percaya pada hasil reportase sendiri, dan tetap rendah hati. Kemudian, untuk menilai kelayakan berita, yang perlu kita perhatikan diantaranya adalah signifikansi, kebesaran dampak, kebaruan, kedekatan, ketenaran, dan kemenarikan berita tersebut. Adapun tiga rujukan yang seharusnya menjadi sahabat kita dalam menulis berita secara baik dan benar adalah KBBI, EYD, dan Tesaurus. Jangan sampai ada pengulangan kata yang memiliki makna sama, dan lain sebagainya. Kapan terakhir buka KBBI? *bertanya pada diri sendiri*
Pembicara kedua adalah Kak Yusron Fuadi yang menyampaikan materi mengenai videografi. Ketika sebagian peserta menganggap mencari ide itu sulit, beliau berkomentar "Ide itu gampang. Yang susah adalah menghargai ide kalian sendiri. Banyak orang memiliki ide bagus tapi membuangnya karena terlalu memikirkan pendapat orang lain." Terkadang kita memang harus memfokuskan diri pada apa yang kita sukai. Yakinlah bahwa tiap pribadi itu unik sehingga ide kita pun unik dan harus membuat kita jatuh cinta padanya. Lalu mengapa ada teori-teori dalam seni yang seharusnya bebas ini? "Karena untuk bisa berpikir out of the box, kita harus tau dulu box nya itu apa," terang beliau. Kak Yusron juga menyarankan pemuda untuk meluangkan waktu menonton film yang bermutu dan berkualitas baik, perhatikan berbagai unsur dalam film tersebut seperti suara, aktor, alur cerita, dan lain sebagainya. Beliau juga mengingatkan bahwa kita harus menerima kenyataan bahwa awalnya kita akan membuat karya yang jelek terlebih dahulu namun lama kelamaan kejelekan ini akan berkurang. Perlihatkanlah hasil karya kita kepada teman-teman dan orang-orang di sekitar, kemudian renungkan tanggapan mereka. Pastikan bahwa video kita komunikatif dan pesan yang ingin kita sampaikan dapat ditangkap dengan baik. Salah satu peserta kemudian mengajukan pertanyaan mengenai apakah membutuhkan alat serba lengkap untuk membuat karya yang baik sedangkan sebagai pemula kita memiliki banyak keterbatasan. Jawaban beliau adalah "Itu menjadi kendala saat kamu menjadikannya kendala. Keterbatasan itu adanya di sini *tunjuk kepala*"
Pembicara ketiga adalah Dedi Ramadhani yang menyampaikan materi desain grafis. Ia mengingatkan betapa pentingnya untuk menumbuhkan sense. Desain adalah tentang menyederhanakan dan mengemas semenarik mungkin. Penting untuk memiliki mentor yang bisa memberikan saran dan kritik pada karya-karya kita. Ada beberapa tips yang ia berikan, seperti:
a. hindari menggunakan lebih dari 2 font pada satu waktu,
b. perhatikan margin dna ruang kosong. Gunakan teks sesedikit mungkin dan gambar sebanyak mungkin
c. untuk template, salah satu yang gratis misalnya dari freepic.com asalkan kita mencantumkan linknya
d. perhatikan jarak antar teks, jangan terlalu mepet
e. gunakan font sesuai kesan yang ingin dimunculkan
f. bitmap atau vektor, tergantung tujuannya
dan banyak ilmu lainnya yang beliau berikan. Acara hari itu sangat menarik dan peserta menjadi termotivasi untuk meningkatkan kualitas dirinya. Terima kasih banyak kepada panitia dan para pembicara. Semoga ilmu yang kita dapatkan dapat dimanfaatkan dengan baik. Dan, terima kasih doorprizenya~ ^_^


Peluncuran Buku & Diskusi "Nora adalah Subversif" karya Faiza Mardzoeki


"Nora" dan "Subversif!" adalah dua buku karya Faiza Mardzoeki yang terinspirasi dari karya Henrik Ibsen.Henrik Ibsen menulisnya dengan latar lingkungan beliau di Norwegia abad ke-18. Nora terinspirasi dari karya Ibsen yang dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai "Doll House", sedangkan "Subversif!" terinspirasi dari "Enemy of The People". Kedua karya Faiza Mardzoeki sudah disesuaikan dengan konteks Indonesia kontemporer. 
Pada diskusi buku ini, pembicara pertama adalah Hilde Solbakken yang merupakan warga negara Norwegia. Hilde menjelaskan bahwa masa hidup Henrik Ibsen adalah masa ketika Norwegia belum merdeka dan masa itu masyarakat Norwegia masih sangat agamis. "Doll House" karya Ibsen yang menceritakan tentang keberanian perempuan untuk mengungkapkan pendapatnya dan keberanian untuk mencari kebenaran meskipun ia sudah terikat dalam institusi pernikahan dan bahkan memiliki anak menjadi karya yang cukup kritis dan kontroversial di masa itu. Henrik Ibsen menjadi semacam 'whistle blower' yang menghubungkan antara ranah personal dan ranah publik. Henrik Ibsen merupakan penulis yang sangat kritis pada masa itu dan karya-karyanya bahkan masih menjadi inspirasi dan cukup banyak dimainkan di teater hingga hari ini.
Selanjutnya, Faiza Mardzoeki menjelaskan mengenai kekagumannya pada Henrik Ibsen yang sangat dihargai oleh pemerintah Norwegia bahkan setelah lebih dari seratus tahun berlalu. Henrik Ibsen termasuk seorang penulis realis dan dramanya bukanlah tipe drama melankolis yang berakhir bahagia. Ibsen seringkali meninggalkan ruang pertanyaan bagi penikmat karyanya dan memunculkan sisi-sisi kritis mereka. Faiza mendorong mahasiswa untuk membaca karya drama kritis seperti ini karena akan membawa kita lebih peka terhadap permasalahan di sekitar kita.
Pembicara ketiga yaitu Mba Nova yang merupakan dosen DPP UGM. Mba Nova berusaha memunculkan sisi kritis peserta dengan menjelaskan bahwa Mba Faiza mengambil setting keluarga kelas menengah di Jakarta yang notabene merupakan kota metropolitan, apakah permasalahan seperti ini juga muncul dengan keluarga di daerah urban atau daerah lainnya di Indonesia? Mba Nova mengingatkan para peserta untuk terus memunculkan nalar kritis di tengah demokrasi yang selalu mengedepankan mayoritas. Mba Nova juga 'membocorkan' isi buku "Subversif!" di mana Dr. Torangga bekerja di tambang dan ia berusaha menyadarkan publik bahwa air di kota akan tercemar karena kegiatan pertambangan. Dalam kisah tersebut, sang walikota merupakan saudara dari Dr. Torangga. Muncul dilema ketika masyarakat kemudian lebih memihak walikota yang mendukung perusahaan tambang karena sudah ada doktrin mengenai kesejahteraan yang dinilai dengan uang. Mereka lebih mengkhawatirkan sumber penghasilan mereka dibandingkan masalah air. Banyak yang dapat peserta renungkan dari kisah ini. Apakah ini fiksi? Atau ini menjadi 'drama' keseharian di masyarakat dimana orang-orang seperti Dr. Torangga terpaksa berjuang sendirian melawan sistem yang mengakar kuat? Akankah orang-orang seperti ini menyerah? Lalu bagaimana dengan kita?