Kamis, 28 April 2016

Tips Mengatasi Stres oleh Mba Dina Wahida

Siang ini, Alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti kelas psikoedukasi yang dengan materi "Road to Positive Mind: Forget Positive Thinking, Start Positive Action" yang disampaikan oleh Mba Dina Wahida. Salah satu yang ingin saya share adalah mengenai stres. Stres merupakan hal neurotik yang sebenarnya bisa kita atasi sendiri. Dalam kadar yang wajar, stres justru bisa meningkatkan produktifitas, contohnya adalah betapa ampuhnya deadline dalam membuat deadliner bisa menyelesaikan tugasnya. Yang menjadi masalah adalah ketika kadarnya berlebihan. Karena itu, Mba Dina memberikan tips mengatasi stres, diantaranya yaitu:
1. Melakukan aktivitas fisik
Saya sih dengan bersepeda atau jalan-jalan pagi. Selain sehat, di jalan kita akan melihat dan merasakan betapa banyak hal yang harus kita syukuri namun sering kali kita lupakan, Udara segar, suara kicau burung, terutama kesehatan dan kebugaran fisik. Betapa banyak nenek-nenek yang berjalan tertatih-tatih atau menyapu dengan terbungkuk di pagi hari. Doakan mereka dan jangan jagalah kesehatan sebagai salah satu bentuk rasa syukur terhadap Allah SWT
2. Bersosialisasi
Tidak harus ke cafe, biskop, atau warung makan kalau memang kamu sedang berhemat dan lebih suka masak sendiri. Bagi muslim, kita sangat sangat dianjurkan melakukan shalat berjamaah, maka manfaatkanlah shalat itu untuk bersosialisasi. Bagi teman-teman yang merantau, mencium tangan ibu-ibu jamaah bisa menjadi penyemangat dan pengingat pada ibunda tercinta di rumah. Senyum mereka pun begitu tulus sehingga kita merasa tenang kembali
3. Menghindari stres yang tidak perlu
Diajak nonton bioskop? Asik sih, tapi sedang perlu hemat. Kalo nonton malah jadi stres. Diajak makan kue-kue manis? Enak sih, tapi asupan gula minggu ini banyak banget, nanti malah jadi sakit kan bahaya. Diajak ke Borobudur? Pengen sih, tapi sedang ngga ada tebengan, bingung cari transport. Nah, sebisa mungkin hindari menambah stres yang tidak perlu.
4. Mengubah cara komunikasi/ manajemen aktivitas. 
Intinya, atur waktu. Tidak hanya sekedar ditulis, tapi rencana itu dilakukan. Itu yang paling penting. Tentang pengaturan waktu, tentu tidak terlepas dari skala prioritas. Maka, buatlah skala prioritas itu supaya kita lebih mudah dan cepat dalam mengambil keputusan
5. Beradaptasi dengan stresor
Mungkin sulit, tapi seringkali memang ini yang harus kita lakukan. Dosen pelit nilai tapi mata kuliahnya sangat menarik, kita pilih ambil kelas itu atau tidak? Kalau memang kita memilih mengambilnya, beradaptasi lah dengan dosen tersebut. Segala sesuatu memang ada konsekuensinya bukan?
6. Menerima hal-hal yang tidak bisa diubah atau terkendali
Sebagai manusia, kita wajib berikhtiar dan berdoa, namun hasilnya tentu saja sepenuhnya kekuasaan Allah SWT. Nah, belajarlah untuk ikhlas dan percaya bahwa segalanya ada hikmahnya. Setelah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.
7. Have fun and relax
Tentu saja dengan cara-cara yang baik dan tidak menambah stres. Misalnya dengan mengaji, membaca buku, ngobrol dengan teman, menari, dan lain sebagainya, tiap orang memiliki caranya masing-masing
8. Menjaga gaya hidup sehat, termasuk pola tidur
Makan yang sehat, tidak sekedar kenyang atau enak, dan tidur yang cukup adalah hal yang penting dalam mengatasi stres. Penuhilah hak-hak tubuh kita karena tanpa kerja sama dengan tubuh yang baik, apa yang akan dapat kita lakukan?

Tentunya kita juga perlu menghindari hal-hal yang mengakibatkan stres, seperti:
a. family history
Pola asuh orang tua sangat berperan besar pada anak. Kita tak bisa menyalahkan orang tua, tapi kita bisa berusaha sebisa mungkin menerapkan pola asuh yang baik pada anak-anak kita kelak. Maka sadarilah bahwa kebiasaan buruk itu buruk, dan mulailah mengubahnya.
b. Poor coping skills
Hal ajaib dari membiasakan diri melakukan sesuatu adalah bisa jadi dalam jangka waktu tertentu kita tidak akan menganggap sesuatu sebagai beban berat lagi, terasa ringan saja. Ayo tingkatkan kapasitas menghadapi masalah
c. Stressful live events
Mendapat penuugasan ke luar negeri adalah kabar besar bagi sebagian orang, namun berbeda hal nya bagi orang yang sebenarnya ingin dekat dengan orang tua di tanah air. Respon tiap orang terhadap berbagai kejadian dalam hidup memang unik. Yang bisa kita lakukan adalah selalu berusaha mengambil pelajaran tersembunyi dibalik skenario yang sebenarnya luar biasa indah ini
d. Thinking style
Terlalu banyak memikirkan hal negatif itu tentu saja berdampak buruk. Perlu kita latih untuk lebih banyak bersyukur dan bahagia. Allah SWT mengiringi tiap langkah kita, Insya Allah, Dibawah pengawasanNya yang tak pernah tidur, tak sepatutnya kita merasa khawatir selain khawatir kehilangan ridhaNya
e. Individual personality
Ada orang yang cenderung mengedepankan perasaan, ada pula yang cenderung mengedepankan logika. Cukup sulit terkadang untuk menyeimbangkan hal-hal tersebut, namun kita bisa mulai membiasakan diri melatihnya
f. Lack of social support
Hal ini lah yang sebenarnya paling berpengaruh, Dukungan teman, keluarga, sahabat, lingkungan, sangat diperlukan dalam membentuk karakter dan tindakan positif. Jangan hanya berharap mendapat dukungan, berikanlah juga dukungan bagi orang lain. Kau tak akan tahu betapa besar dampak dukungan sederhanamu bagi orang yang bisa jadi benar-benar sedang sangat membutuhkannya. Dan kau tak tahu betapa berbahayanya jika kau mendiamkannya.


Semangat positif!! Mulai dari diri sendiri, mulai saat ini, mari beraksi!

Keharusan memeriksa kebenaran suatu berita, baik dari media Islam maupun bukan

Tabayyun. Sering mendengar kata itu? Sering mengamalkannya?
Yang sedang menggelitik saya adalah betapa banyaknya kaum muslimin yang mulai jarang bertabayyun semata karena sudah merasa percaya sepenuhnya pada suatu tokoh/ organisasi/ individu lainnya yang memberikan informasi. Padahal, ada kewajiban untuk saling menasihati dan mengingatkan sesama muslim. Sekalipun saya sebagai orang yang baru belajar Islam, jika saya mengingatkan orang yang sudah jauh lebih paham saat ia melakukan suatu kekhilafan, bukankah seharusnya ia mau mengakui kesalahannya dan melakukan perbaikan? Bukankah sejarah mencatat bahwa para khalifah dalam Islam pun seringkali ditegur rakyat dan mereka meminta maaf serta berusaha memperbaiki kesalahannya? Amar ma'ruf nahi munkar diperintahkan oleh Allah SWT karena Ia Maha Mengetahui manusia memang tak luput dari kesalahan.

Selanjutnya saya mencoba merenung, apakah batas mencari kebenaran adalah kita hanya mempelajari hukum-hukum Islam? Jangan sampai saat kita sibuk mempelajari hukum-hukum Islam kita menjadi enggan meluangkan waktu untuk memeriksa kebenaran berita-berita yang tengah beredar dan menjadi perbincangan di kalangan masyarakat dan menyerapnya begitu saja semata karena kita yakin bahwa media dipegang oleh orang yang baik. Apakah media yang dipegang orang Islam selalu benar sehingga kita tidak perlu kritis? Apa tidak ada celah kekhilafan sedikitpun di sana? Padahal kita memahami bahwa media berperan besar dalam membentuk opini masyarakat. Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Adakah yang memiliki anggapan "Islam itu menganggap non-muslim selalu salah dan muslim selalu benar?" Sayangnya, saya pribadi masih beranggapan bahwa ada sebagian orang yang seperti itu. Cenderung membenarkan apapun yang dilakukan muslim sekalipun terkadang itu hal yang cukup ceroboh dan samasekali tidak mau mengakui kebaikan atau kelebihan non-muslim. Apa menurut anda yang demikian akan membawa kemajuan bagi umat? 

Yang kita perjuangkan sesungguhnya bukan hanya kebaikan bagi seluruh umat Islam, melainkan seluruh semesta. Karena itu, mari lebih berhati-hati dalam menulis dan menyebarkan sesuatu. Kita semua adalah duta-duta Islam, mari ucapkan hal yang bermanfaat atau diam. Libatkan Allah SWT dalam tiap aktivitas, termasuk menulis. Saya ingin berterima kasih pada seluruh penulis yang mencurahkan segenap waktu, tenaga, pikiran, untuk membuat tulisan yang bermanfaat. Mari saling menasehati dan mengingatkan. Semoga ridha Allah SWT mengiringi tiap langkah kita. Aamiin~

glitter-graphics.com